Sabtu, 25 Mei 2013

AK-47 Senjata Pemusnah Paling Dahsyat

Diposting oleh Unknown

Simbol Perlawanan dan Perjuangan


Bisa digunakan oleh siapa saja, tak mudah macet dan gampang dirawat. Kelebihan itulah yang membuat 50 angkatan bersenjata dan tak terhitung kelompok perlawanan, memilih AK 47 sebagai senjata utama bagi para personelnya. Akurasinya memang tidak sebaik M­16, namun sebagai senapan untuk pertempuran jarak dekat kelemahan ini bukanlah perkara serius. Hingga kini kira-kira telah beredar 75 sampai 100 juta pucuk di seantero dunia. Reputasinya yang mendunia dengan sendirinya diikuti catatan buruk bahwa senapan ini juga telah membunuh begitu banyak orang. AK telah menewaskan jutaan orang dan mengakibatkan jutaan lainnya mengungsi. Ini jauh lebih besar dari korban bom atom di Jepang. Tak heran jika kepadanya dise­matkan predikat senjata pemusnah paling dahsyat di dunia.

"The most devastating weapon in the world" Kisah pertempuran antara (helikopter serang Angkatan Darat AS, AH-64D Longbow, dengan tentara Irak bersenjatakan AK‑47 yang terjadi di Bagh‑ dad pada 23 Maret 2003 adalah kisah pertem­puran tak imbang paling dahsyat yang bisa digunakan untuk menggambarkan kesaktian senapan ini. Dari sini dunia bisa melihat bahwa betapa AS telah menginvestasikan miliaran dollar untuk senjata canggih yang bisa memusnahkan sebuah tempat dari ruang angkasa, AK-47 yang bisa ditebus dengan hanya 15 dollar masih tetap men­jadi senjata pemusnah massal yang paling menakutkan di dunia.




Helikopter serang AH-64 Apache, andalan Angkatan Darat AS untuk serangan darat dan antitank dalam Operasi Iraqi Freedom. Heli ini biasa dilengkapi kanon, roket dan rudal. Dalam kontak senjata di Baghdad, 23 Maret 2003, hell sangar ini toh bisa ditundukkan oleh milisi Irak yang hanya bersenjatakan AK-47.

Pada hari itu, alkisah, AD AS mengerahkan 32 AH-64 versi Longbow dan Apache untuk membuka jalan bagi iring-iringan kendaraan pasukan koalisi yang akan masuk ke dalam kota Baghdad dari arah utara. Ini adalah hari ketiga terhitung setelah AS dan pasukan koalisi memulai serangan ke Irak. Operasi militer untuk menumbangkan kekuasaan Saddam Hussein ini dikenal pula dengan sebutan Operasi Iraqi Freedom.

Helikopter antitank spesialis search and destroy itu sengaja dikerahkan dalam jumlah ban-yak karena situasi ibukota Irak belum sepenuhnya dikuasai. Di sana, dikuatirkan masih banyak bercokol personel Garda Re­publik – pasukan elit pengawal Presiden Saddam Hussein. Mereka kabarnya memiliki senjata antipersonel rudal darat ke darat dan roket ATACMS berhulu ledak born seberat 950 pon.

Tapi apalah artinya senjata­senjata itu dibanding kanon 30 mm milik Apache yang mampu menyemburkan 320 peluru per-detik dan rudal antitank AGM-114 Hellfire yang sanggup menjebol tank? Dengan berbagai persen­jataan mematikan yang ditenteng helikopter-helikopter itu, AD AS kelihatan percaya diri. Apalagi karena helikopter serbu itu terbang tidak sendirian.

Namun, tak lama setelah memasuki kota, wajah pilot-pilot AD AS itu sontak berkerut, khu­susnya setelah melihat sekelebat cahaya dari sebuah sudut jalan. Dua menit kemudian, nyali mere­ka tiba-tiba menciut setelah ribuan peluru menghambur dari berbagai arah ke arah helikopter yang mereka terbangkan. Kedatangan mereka rupanya sudah ditunggu.

Spot cahaya itu ternyata aba-aba serangan. Tidak ada satu sasaran pun yang bisa dibidik secara fokus oleh pilot Apache. Tembakan berasal dari berbagai titik, dari atap-atap gedung, dari gang, dari mana saja. Yang paling mencengangkan peluru-peluru itu bukanlah peluru kanon. Bagi para pilot peluru-peluru itu sangat kecil. Peluru-peluru itu ternyata berasal dari moncong senapan AK. Namun demikian, meski hanya be­rasal dari kaliber 7,62 mm, 31 dari 32 helikopter tempur ini benar-be­nar kerepotan dan mundur karena mengalami kerusakan. Kemana yang satu lagi? Terjangan peluru AK ternyata berhasil membuatnya jatuh. Kedua awaknya lalu menjadi tawanan perang.

Bob Duffney, salah seorang pilot Apache yang ‘mundur’ dari ajang pertempuran itu kemudian bercerita. Seperti dirasakan pilot-pilot Apache lainnya, is menga­takan, model pertempuran yang dihadapi di Irak benar-benar baru sekaligus menyeramkan “Kami ditembaki oleh senapan AK dari segala arah. Saya sendiri mendapat tembakan dari depan, belakang, kiri, kanan Dalam operasi Desert Storm, kami sama sekali tak men­galami perlawanan sehebat ini.”

Hingga saat itu para panglima perang dan prajurit AS tak pernah memandang serius daya bunuh AK. Padahal kejadian segenting ini, pernah dialami prajurit Ranger ketika menggelar operasi penangkapan Jenderal Moham­med Farrah Aidid, 3 Oktober 1993 di Mogadishu, Somalia. Beberapa personel yang ingin menyelamatkan awak udara dari dua heli UH-60 Blackhawk yang jatuh dalam operasi tersebut, pernah dibuat tak berkutik akibat dihujani peluru AK oleh pasukan Aidid. Operasi penangkapan Aidid itu pun berubah menjadi operasi penyelamatan awak udara dan prajurit Ranger yang terjebak di Mogadishu.

AB AS, semasa pemerintahan Bill Clinton, talc akan pernah me­lupakan kegagalan operasi Gothic Serpent. Pasalnya, dalam operasi penangkapan Aidid yang semula dibayangkan sangat mudah itu telah tewas 18 personel AS se­mentara 79 lainnya pulang dalam keadaan terluka. Mereka juga talc akan pernah melupakannya, karena pasukan Aidid sebaliknya berhasil menangkap Mike Durant, satu-satunya pilot Blackhawk yang selamat dalam pertikaian berdarah itu.

Kisah kegagalan operasi penangkapan Mohammed Farrah Aidid dapat disimak dalam film la­yar lebar Black Hawk Down (2001) karya sutradara Ridley Scott. Sama dengan sikap awak AH-64 Apache yang akan masuk kota Baghdad, awak UH-60 juga memasuki kota Mogadishu dengan perasaan jumawa. Pikir mereka, mana mungkin milisi dari negeri miskin mampu menghadapi serombon­gan helikopter bersenjata dan prajurit perkasa AS? Tembakan RPG tanpa dinyana berhasil merontokkan dua Blackhawk dan operasi ini pun berubah menjadi horor bagi pasukan elit AS.

Gothic Serpent dipimpin oleh Brigjen William F. Garri­son, perwira brilian yang dalam catatan reputasinya pernah ikut mendukung operasi penangkapan Pablo Escobar, raja kartel obas bius Colombia pada 1993. Operasi ini didukung 160 personel, 19 pesawat termasuk helicopter komando dan pengendali A/MH-6 Little Bird–, 12 kendaraan angkut personel, serta persenjataan cang­gih lain. Jumlah serta kecanggihan sistem persenjataan rupanya tak bisa memberangus keberingasan pasukan Aidid. Meski kekuatan mereka hanya bertumpu pada AK, Rocket Propelled Granade (RPG), dan kanon konvensional.

Andalan Perang Asimetrik
Bagi AS, pertempuran di Mogadishu merupakan pertem­puran dalam kota paling dramatik. Untuk mengantisipasi pertem­puran sejenis, Marinir AS kemu­dian berinisiatif menggelar Urban Warrior Program. Program ini didedikasikan agar setiap prajurit mampu menghadapi lawan yang hanya berbekal AK. Pimpinan Marinir AS sempat menyatakan, AK tak bisa disepelekan karena se napan ini masih akan jadi andalan untuk konflik masa depan.

Para pejuang Mujahidin dari Distrik Achin, Afghanistan, tengah berkumpul dengan AK-47 di tangan. Bersama pasukan koalisi, mereka tengah merencanakan untuk melawan Taliban. 

Bagi Angkatan Bersenjata AS, pertempuran Mogadishu dan Baghdad adalah indikator betapa perang masa depan masih akan di­warnai pertempuran – pertempuran asimetrik Pertempuran asimetrik adalah pertempuran antara dua kekuatan yang berbeda dengan persenjataan berbeda, dan dengan doktrin yang berbeda pula. Dalam pertempuran jenis ini, kemenan­gan belum tentu berpihak pada kekuatan dengan persenjataan yang lebih hebat Kekuatan yang lebih kecil bisa memberi pukulan telak karena cenderung mengenal medan dan berani melancarkan taktik perang gerilya.


Tentara Uni Soviet di Afghanistan. Mereka menggunakan AK-74.

Namun demikian, apa yang dipikirkan AB AS ternyata tak selalu sejalan dengan apa yang dipikirkan pars politisi. Larry Kahaner, wartawan Business Week yang kini terkenal namanya lewat buku AK-47: The Weapon that Changed the Face of War (2008) menegaskan hal itu. Katanya, me-ski berbagai konflik di dunia telah menguatkan kenyataan bahwa jumlah AK telah menggunung dan telah merembes ke berbagai negara dunia ketiga, kaum politisi di berbagai negara maju tetap sulit memahami, bahwa ada kekuatan tersembunyi di balik senjata seder­hana macam AK. Terlebih jika se­napan ini ada di tangan sekawanan pasukan yang brutal.

Lebih jauh Kahaner mengung­kap, sayangnya, kaum politisi me­mang kerap memandang remeh daya rusak senapan yang satu ini. Padahal, jika mereka mau melihat keadaan sebenarnya di berbagai daerah konflik Afrika, Asia, dan Amerika Selatan, senapan ini telah merusak segalanya. Tiap tahun, katakan saja begitu, peluru AK telah mencabut nyawa seperempat juta orang dan bilcin menderita keluarga yang ditinggalkan.

Sebagian korban adalah milisi anggota kelompok perlawanan. Ironisnya, kematian yang mereka hadapi hanyalah kesia-siaan karena mereka tak pernah benar­benar mendapat imbalan yang telah dijanjikan. Sudah menjadi pemakluman tersendiri bahwa milisi yang tewas di medan per­tikaian seperti di Somalia, Sudan, Sierra Leone, Jalur Gaza, Afghani­stan, serta Nikaragua, Kolumbia, Peru, dan negara-negara Amerika Selatan lainnya, hanyalah korban dari kesewenangan pimpinannya Hanya pimpinan kelompoklah yang sesungguhnya mendapat untung.

UNICEF juga punya penila­ian serupa. Kematian jutaan anak akibat small-arm benar-benar bikin miris. Menurut mereka, sejak 1990, lebih dari dua juta anak terbunuh, enam juta lainnya mengalami cidera serius, dan lebih dari 22 juta telah kehilangan tempat tinggal. Selain disebabkan oleh penyalahgunaan small-arm, bencana juga ditimbulkan oleh pe­makaian light weapon. (Carol Bellamy, Direktur Eksekutif UNICEF, dalam pamflet No Gun Please: We Are Children, 2001).

“Tiap tahun paling tidak ratusan ribu orang meninggal sia­sia akibat senjata-senjata ini dan jutaan lainnya terluka,” tambah Bellany. UNICEF tak hanya menuduh AK. Small arm menurut batasan mereka, adalah segala jenis senjata api yang pemakaiannya dirancang untuk perorangan. Masuk dalam kategori ini adalah pistol, senapan serbu, sub-machine gun, carbine, dan senapan mesin ringan. Semen­tara untuk kategori light weapon, mereka menyebut: senapan mesin berat, kanon dan rudal anti pesawat portabel, mortir, roket dan rudal antitank. Light weapon dioperasikan oleh lebih dari satu orang.

Bertahun-tahun Unicef melancarkan kecaman terhadap pihak-pihak di berbagai negara dunia ketiga yang menyalahgunakan small-arm. Penyalahgunaan small-arm dinilai telah mengakibatkan jutaan orang dan anak-anak terbunuh sia-sia, dan menciptakan penderitaan yang tak berkesudahan.

Bagaimana AK bisa men­gakibatkan semua itu terjadi, tak seorang pun bisa menjawab dalam satu jawaban. Bahkan sang pencipta sekalipun, yakni Mikhail Timofeevich Kalashnikov, hanya bisa angkat bahu. Ia menampik semua penilaian buruk itu dengan menyatakan bahwa dirinya hanya sekadar merancang dan membuat. Senjata ini dianggapnya telah ber­jalan dan menentukan nasibnya sendiri Inilah yang kemudian menjadi kisah yang tak berkesu­dahan (never ending story) dari sang senapan. Talc seorang pun bisa mengekang bahwa senjata rancangan zaman Perang Dunia II ini masih akan bertahan hingga perang masa depan.

Kepada Joel Roberts, wartawan CBSNews, Kalashnikov men­egaskan dirinya hanya sekadar pencipta. Bahwa, ciptaannya itu kini menjadi mesin pembunuh paling dahsyat, is bukan lagi um­sannya. “Saya akan tetap merasa tak bersalah, dan akan tetap bisa tidur nyenyak. Sebab, saya mer­ancang senjata ini murni untuk mempertahankan negeri saya dari serangan Jerman,” ujarnya.

“Semua tuduhan itu seharusnya bukan untuk saya. Percayalah, saya bahkan tak menerima secuil pun royalti darinya. Kesalahan ada pada para politisi yang pintar memutar­balikkan fakta dan menarik keun­tungan dari semua pertikaian yang mereka ciptakan,” tambah mantan supir tank AD Rusia yang kini masih hidup dalam usia 91 tahun.

Perang Dunia II sendiri tak serta-merta mencuatkan profil AK. Senapan ini masih meniti perjalanannya dan menjalani sejumlah penyermpurnaan. Nama AK baru benar-benar bersinar setelah menjadi lawan tanding M­14 dan M-16 dalam kancah Perang Vietnam. Dalam perang inilah AK 47 terbukti battle proven. Banyak prajurit AS bahkan mengaku lebih menyukai AK ketimbang M-16 yang katanya kerap macet dan mengalami kerusakan. AK 47 yang waktu itu menjadi andalan tentara Vietnam Utara dan Vietkong, diakui superior dan tepat untuk pertempuran jarak pendek. Bagi para GI, justru senapan seperti ini­lah yang mereka perlukan dalam pertempuran di Vietnam.

Namun, kala itu nama AK belum sepenuhnya mendunia. Namanya baru benar-benar mend­unia setelah tentara Uni Soviet menenteng senapan ini masuk ke Afghanistan pada 1979. Dalam upaya menguasai negeri yang me­narik perhatian karena cadangan gas dan opium kulaitas tingginya itu, Uni Soviet membawa AK dari jenis baru, yakni AK 74. Diband­ing AK 47, peluru AK 74 jauh lebih mematikan. Ukuran kalibernya lebih kecil. Jika AK 47 standar menggunakan peluru kaliber 7,62 mm, AK 74 menggunakan peluru 5,45 x 39 mm.

Akan tetapi, bukan ukuran yang membuatnya mematikan. Yang membuatnya mematikan adalah kecepatannya yang jauh lebih tinggi serta konstruksi proyektilnya yang mudah hancur ketika menembus tubuh. Itu karena kulit proyektilnya yang sangat tipis sementara di dalamnya berongga. Ketika proyektil masuk ke dalam tubuh, proyektil akan segera pecah menjadi butiran-butiran kecil dan menyebar. Hal ini lah yang akan mengakibatkan luka lebih lebar dari biasanya dan sulit ditangani.

Selama bertahun-tahun, peluru AK 74 menghantui para Mujahi­din yang menjadi seteru tentara Uni Soviet. Setiap kali mereka menyerbu desa-desa, senapan yang diberondongkan tentara Soviet itu pasti menelan banyak korban. Talc sedikit rumah sakit yang menyerah menangani luka akibat tembakan senapan ini. Sedemikian frustas­inya para Mujahidin menghadapi senapan tersebut, mereka lalu menyebut peluru AK 74 sebagai peluru beracun.

AK 47 di tangan anak-anak dan wanita. Kemudahan dalam menggunakannya membuat senapan ini menjadi andalan tentara anak-anak di Afrika dan Amerika Selatan. Unicef menentang habisan-habisan organisasi perlawanan yang telah melibatkan anak-anak sebagai satuan pembunuh. Di Iran, Irak, dan Pakistan.

Jangankan para Mujahidin, in­telijen Barat pun mengaku jeri dan harus bekerja keras untuk meng­etahui secara persis jenis senapan tersebut. Informasi cukup lengkap baru muncul setelah koresponden majalah Soldier of Fortune membe­berkannya pada majalah ini sekitar tahun 1980. Dari semua data yang mereka peroleh, intelijen Barat barulah menyadari bahwa peluru yang amat ditakuti itu rupanya berasal dari AK tipe baru, yakni AK 74. Senapan ini adalah hasil penyempurnaan AK 47.

Wanita bahkan juga "menyukai" senapan ini.

Prakarsa untuk memperkecil kaliber peluru rupanya datang dari TsNIITochmash, sebuah kelom­pok enjinir persenjataan di Uni Soviet. Mereka mengerjakannya pada dasawarsa 1960-an setelah mengikuti rekam jejak peluru 5,56 mm M-16. Namun oleh karena ketidaksempurnaan mekanis sena­pan, peluru tersebut ditinggalkan Oleh kelompok enjinir lain, peluru itu diambil kembali lalu dijadikan standar cartridge untuk AK 74.

Bukan rahasia lagi, jika intelijen Barat – khususnya CIA – kerap keluar masuk Afghanistan. Mereka ini adalah kepanjangan tangan pemerintahan masing-masing yang pada kenyataannya juga punya banyak kepentingan di negeri ini. AS, misalnya, diketahui kerap memberikan bantuan uang dan senjata untuk para Mujahidin karena sama-sama punya perha­tian besar pada gas, minyak, dan opium Afghanistan. Kemunculan AK 47 di medan pertempuran nyatanya cukup bikin repot CIA, karena dengan sendirinya para Mujahidin berharap AS memberi dukungan senjata yang sekelas. 

Senapan kir­iman pertama mereka, yakni .303 Lee Enfield dianggap tak memadai karena single shot dan bolt action. Terlalu riskan untuk menandingi AK 74 yang bisa memuntahkan 650 peluru dalam semenit. Kunci satu-satunya untuk menandingi senapan ini adalah senapan serbu sejenis. Selain dibuat di dalam neg­eri (Uni Soviet), AK 74 juga dibuat di China, Bulgaria, Jerman Timur dan Romania. CIA pun memburu senapan ini.

Disukai Pemasok Senjata
Ternyata tak sulit untuk men­dapatkan AK di pasaran umum. Kuncinya hanya satu, yakni uang dan mau mendekati pemasok sen­jata Dalam sekejap, Howard Hart, Kepala Kantor CIA di Pakistan, pun berhasil memesan ratusan ribu AK. Bukan AK 74, tapi AK 47. Senjata ini tidak didatangkan dari Soviet, tapi dari China dan Polandia. Mesir dan Turki juga ketahuan ikut memasok.

AK-47 & Bayonet

Presiden AS Ronald Reagan menggelontorkan uang hingga 200 juta dollar, sementara keluarga Raja Arab Saudia bersedia melipatgandakannya menjadi 400 juta dollar. Uang itu lah yang dibe­lanjakan CIA untuk membantu persenjataan Mujahidin. Sejumlah sumber mengatakan, pasokan senjata yang dikelola CIA untuk wilayah Afghanistan pada 1988 itu dikenal sebagai yang ter­besar sejak Perang Vietnam. Dinas Intelijen AS ini total menyalurkan dana (yang diterima dari berbagai donatur) hingga dua miliar dollar. Senjata biasanya di-drop terlebih dulu ke Islamabad atau Karachi. Dari situ senjata kemudian dipecah ke dua kota, yakni Quetta dan Peshawar, sebelum akhirnya dikirim ke Afghanistan.

Akibat dari perkembangan ini, para pemasok senjata pun kerap berkeliaran di Islamabad, Karachi, serta beberapa kota lain, dan menjadikan kota-kota itu sebagai pusat perdagangan senjata di Asia. Perkembangan ini membuat Pakistan tak hanya disinggahi para Mujahidin. Para penjahat, geng­geng kriminal, pedagang obat bius, dan tokoh-tokoh masyarakat yang ingin ikut menikmati kekayaan alam Afghanistan pun tak ayal juga kepincut untuk melawat. Otoritas setempat tak pernah benar-benar melarang mereka, karena para pe­masok senjata tahu benar apa yang harus diberikan kepada oknum Dinas Intelijen Pakistan.

Alhasil, tak perlu menunggu waktu lama untuk membuat AK populer di Pakistan, Afghanistan dan negara-negara di sekitarnya. Hanya dalam beberapa tahun, koran Los Angeles Times bahkan sudah menggambarkan Pakistan bak Wild West julukan untuk Amerika di masa koboi. “Jika Anda ingin Kalashnikov, datang saja ke Hyderabad. Di sana ada sekitar 8.000 AK, dan Anda bisa dapatkan dengan harga 15.000 rupee atau sekitar 850 dollar. Jika uang tidak cukup, beri saja panjer 5.000 rupee. Gunakan untuk mer­ampok bank, lalu bayar sisanya dengan uang hasil rampokan,” begitu gurauan yang ditulis LAT.

“Di Peshawar, Anda bahkan bisa menyewa AK jam-jaman kepada warga setempat,” tulis kritikus yang lain, menggambar­kan Pakistan yang telah berubah menjadi salah satu kota terpanas di dunia.

Di luar Asia sebenarnya ada kota-kota lain yang juga disukai para pemasok senjata. Kota-kota itu ada di Liberia, Burkina Faso, Guinea, dan Pantai Gading di Afrika. Mereka juga menyukai beberapa tempat seperti Lebanon, Israel, Panama, Nicaragua dan Co­lombia. Negara-negara ini disukai oleh karena potensi konflik yang memang begitu tinggi. Namun demikian, di antara negara-negara itu, banyak pihak menyatakan, tak ada yang hampir menyamai Pakistan kecuali Nicaragua.

Nicaragua, pada dasawarsa 1980-an, juga merupakan surga lain bagi para pemasok senjata. Di negara ini puluhan ribu AK digu­nakan dan mengalir ke negara­negara lain di Amerika Selatan. Lewat cara-cara yang unik, yang mana di dalamnya CIA juga terli­bat, senapan juga dikirim ke Peru, El Salvador, Panama, Honduras, dan Venezuela. Jika disimak lebih lanjut, ada beberapa kesamaan yang membuat AK mengalir deras ke Amerika Selatan. Kesamaan itu adalah stabilitas pemerintahan yang rapuh dan maraknya perda­gangan obat bius.

Nicaragua sendiri tak banyak berperan dalam perdagangan obat bius. Namun, karena posisinya yang sangat strategis, yakni ada di tengah-tengah negara penghasil kokain, negeri ini enak dijadikan pijakan bagi para pemasok senjata. Terlebih karena CIA pernah mem­berikan bantuan senjata dalam jumlah besar bagi para pejuang Contra – organisasi perlawa­nanan yang berseberangan dengan pemerintahan Sandinista yang berkuasa saat itu.

Kisah keterlibatan CIA di Nicaragua sendiri mencuri per­hatian dunia setelah Kongres AS dan Komisi Tower menyingkap Skandal Iran-Contra pada 1986. Dalam skandal yang dikendalikan Letkol Oliver L. North dari Dewan Keamanan Nasional itu, AS men­jual senjata antitank kepada Iran, sementara keuntungan dari hasil penjualan dibelikan senjata ringan (sebagian besar adalah AK) untuk mendukung perjuangan Contra. Kasus ini dinyatakan sebagai skandal karena proses penjualan senjata kepada Iran telah mencid­erai seruan embargo yang dinya­takan sendiri oleh Pemerintah AS, dan Presiden Ronald Reagan akhirnya mengaku mengetahui dan menyetujui transaksi ini.

Misi rahasia dukungan persenjataan kepada Contra mulai tercium setelah tentara Nicaragua menembak jatuh pesawat asing ketika melintas di atas kota San Carlos pada 1986. Pesawat kargo C-123 warna kamuflase Vietnam ini ternyata bermuatan AK, 100.000 amunisi, RPG dan logistik. Dua awaknya tewas, sementara se­orang lagi, yakni Eugene Hasenfus, selamat. Lewat interogasi, Hasen­fus akhirnya mengaku bahwa barang-barang itu adalah kiriman CIA untuk Contra.

Skandal makin terbuka setelah majalah Ash Shiraa terbitan Lebanon, edisi November 1986, mengungkap pertemuan rahasia.

4 Komentar:

Budayakan memberi komentar setelah membaca

Senin, 25 Maret 2013

Dinding Ratapan Yahudi dan Wall Facebook ???

Diposting oleh Unknown


1. Dinding Ratapan (The Wailing Wall)



Dinding Ratapan  adalah tempat yang penting dan dianggap suci oleh orang Yahudi maupun Muslim. Ini adalah sisa dinding Bait Suci di Yerusalem yang dibangun oleh Raja Salomo (Sulaiman), putra Daud. Bait Suci itu hancur ketika Israel diserbu tentara Romawi pada tahun 70 Masehi.
Panjang tembok ini aslinya sekitar 485 meter, dan sekarang sisanya hanyalah 60 meter. (katanya sih)
Orang Yahudi percaya bahwa tembok ini tidak ikut hancur sebab di situlah berdiam "Shekhinah" (kehadiran ilahi). Jadi, berdoa di situ sama artinya dengan berdoa kepada Tuhan.

Tembok ini dulunya dikenal hanya sebagai Tembok Barat, tetapi kini disebut "Tembok Ratapan" karena di situ orang Yahudi berdoa dan meratapi dosa-dosa mereka dengan penuh penyesalan. Selain mengucapkan do'a-do'a mereka, orang Yahudi juga meletakkan doa mereka yang ditulis pada sepotong kertas yang disisipkan pada celah - celah dinding itu.
Tembok tersebut berbatasan langsung dengan Masjid Al-Aqsa dan Masjid Omar. Bagi kaum muslim, dinding ini merupakan dasar dari Masjid Suci Al-Aqsa. Dinding ini dibagi dua dengan sebuah pagar pemisah (mechitza) untuk memisahkan laki-laki dan perempuan. Orang Yahudi Ortodoks percaya bahwa mereka tidak boleh berdoa bersama - sama dengan kaum perempuan.
Ibu Kota Israel yang luasnya sekitar 700 kilometer ini adalah kota yang berdiri di sekitar pegunungan yang indah. Penuh dengan situs-situs suci bagi umat berbagai agama, sehingga menjadi magnet bagi wisatawan dari berbagai penjuru dunia. Tembok Barat alias Tembok Ratapan, misalnya. Dinding bait suci di Jerusalem yang dibangun oleh Raja Salomon atau Sulaiman dan Bait Suci itu hancur ketika Israel diserbu tentara Romawi pada 70 Masehi. Bangsa Yahudi percaya tembok ini tidak ikut hancur karena di tempat ini berdiam Shekhinah. Dengan demikian, berdoa di tembok ini sama artinya berdoa kepada Tuhan. Biasanya, peziarah dari berbagai penjuru dunia juga menyelipkan kertas doa di sela - sela batu tembok ratapan.
Tembok ini dulunya dikenal hanya sebagai Tembok Barat, tetapi kini disebut “Tembok Ratapan” karena di situ orang Yahudi berdoa dan meratapi dosa - dosa mereka dengan penuh penyesalan. Selain mengucapkan doa-doa mereka, orang Yahudi juga meletakkan doa mereka yang ditulis pada sepotong kertas yang disisipkan pada celah-celah dinding itu.
Panjang tembok ini sebenarnya sekitar 485 meter. Namun kini yang tersisa hanya 60 meter.
Tembok tersebut berbatasan langsung dengan Masjid Al-Aqsa dan Masjid Omar. Bagi kaum muslim, dinding ini merupakan dasar dari Masjid Suci Al-Aqsa. Tembok ini dibagi dua dengan sebuah pagar pemisah atau mechitza untuk memisahkan laki-laki dan perempuan karena Yahudi ortodoks saat berdoa tidak boleh bersama - sama dengan perempuan.
Pada 1948 hingga 1967, Yahudi tidak diperkenankan untuk mendatangi tembok ini lantaran berada di bawah pengawasan pemerintahan Yordania.

Ibu Kota Israel yang luasnya sekitar 700 kilometer ini adalah kota yang berdiri di sekitar pegunungan yang indah. Penuh dengan situs-situs suci bagi umat berbagai agama, sehingga menjadi magnet bagi wisatawan dari berbagai penjuru dunia. Tembok Barat alias Tembok Ratapan, misalnya. Dinding bait suci di Jerusalem yang dibangun oleh Raja Salomon atau Sulaiman dan Bait Suci itu hancur ketika Israel diserbu tentara Romawi pada 70 Masehi. Bangsa Yahudi percaya tembok ini tidak ikut hancur karena di tempat ini berdiam Shekhinah. Dengan demikian, berdoa di tembok ini sama artinya berdoa kepada Tuhan. Biasanya, peziarah dari berbagai penjuru dunia juga menyelipkan kertas doa di sela-sela batu tembok ratapan.
Tembok ini dulunya dikenal hanya sebagai Tembok Barat, tetapi kini disebut “Tembok Ratapan” karena di situ orang Yahudi berdoa dan meratapi dosa-dosa mereka dengan penuh penyesalan. Selain mengucapkan doa-doa mereka, orang Yahudi juga meletakkan doa mereka yang ditulis pada sepotong kertas yang disisipkan pada celah-celah dinding itu.
Panjang tembok ini sebenarnya sekitar 485 meter. Namun kini yang tersisa hanya 60 meter.
Tembok tersebut berbatasan langsung dengan Masjid Al-Aqsa dan Masjid Omar. Bagi kaum muslim, dinding ini merupakan dasar dari Masjid Suci Al-Aqsa. Tembok ini dibagi dua dengan sebuah pagar pemisah atau mechitza untuk memisahkan laki-laki dan perempuan karena Yahudi ortodoks saat berdoa tidak boleh bersama-sama dengan perempuan.
Pada 1948 hingga 1967, Yahudi tidak diperkenankan untuk mendatangi tembok ini lantaran berada di bawah pengawasan pemerintahan Yordania.
2. Wall Facebook
Wall Facebook adalah Dinding Maya dimana orang - orang didunia dengan leluasa meratap, mengeluarkan keluh kesahnya, menuliskan harapan-harapannya, dan menghaturkan do'a - do'anya. Bahkan, jika Tembok Ratapan di Palestina hanya sedikit pengunjungnya, itu pun tidak setiap hari, maka dinding yang baru ini selalu dipenuhi oleh pengunjung dari segala penjuru dunia tiap harinya. Bahkan ada yang setiap hari tidak pernah meninggalkan tembok baru ini saking khusyuknya ibadah mereka di tempat itu.
Meski begitu, ia tidak pernah sesak, para pengunjungnya bisa dengan leluasa mengunjungi dinding dinding itu. Bahkan, mereka diberikan kemudahan dengan dibebaskannya mereka membuat privatisasi pada sebagian tembok tertentu. Mereka bisa menuliskan harapannya, menyelipkan keluh kesah dan doa-doa panjangnya di dinding- dinding tembok itu, bahkan kini mereka juga dapat menyelipkan foto - foto diri mereka. Mereka juga dapat berinteraksi dengan pengunjung lain yang juga menjadi peratap di tembok itu. Kadang, mereka saling bertukar komentar atas keluhan, harapan, doa, atau sekadar celoteh kecil yang disisipkan di dinding mereka. Begitu mudah, begitu akrab, dan begitu alami…
 

3. Tembok Ratapan = Wall Facebook?
Tembok Ratapan itu kini masih berdiri, dan masih banyak orang datang ke sana untuk berdoa dan meratap, sekaligus menuliskan harapan-harapannya lalu menyelipkannya ke dinding- dinding tembok itu. Nah, kini ada sebuah tembok baru yang dibuat di luar tembok ratapan itu. Jika yang datang ke tembok ratapan sebagian besar adalah orang-orang yahudi, maka di tembok baru itu, yang datang meratap bukan saja orang-orang yahudi, tetapi juga orang-orang Muslim dan orang-orang umum. Mereka dengan leluasa meratap, mengeluarkan keluh kesahnya, menuliskan harapan-harapannya, dan menghaturkan doa-doanya. Bahkan, jika Tembok Ratapan di Palestina hanya sedikit pengunjungnya, itu pun tidak setiap hari, maka tembok yang baru ini selalu dipenuhi oleh pengunjung dari segala penjuru dunia tiap harinya. Bahkan ada yang setiap hari tidak pernah meninggalkan tembok baru ini saking khusyuknya ibadah mereka di tempat itu.
Meski begitu, ia tidak pernah sesak, para pengunjungnya bisa dengan leluasa mengunjungi tembok-tembok itu. Bahkan,
mereka diberikan kemudahan dengan dibebaskannya mereka membuat privatisasi pada sebagian tembok tertentu. Mereka bisa menuliskan harapannya, menyelipkan keluh kesah dan doa-doa panjangnya di dinding- dinding tembok itu, bahkan kini mereka juga dapat menyelipkan foto-foto diri mereka. Mereka juga dapat berinteraksi dengan pengunjung lain yang juga menjadi peratap di tembok itu. Kadang, mereka saling bertukar komentar atas keluhan, harapan, doa, atau sekadar celoteh kecil yang disisipkan di dinding mereka. Begitu mudah, begitu akrab, dan begitu alami…
Ya.. tahukah kalian? Kini, tembok ratapan itu bernama Facebook!!! Di Facebook, kita mengenal istilah wall/dinding. Di sana kita biasa mencurahkan isi kepala kita, harapan, doa dan sebagainya. Secara konseptual, ini sama dengan konsep tembok ratapannya orang yahudi. Bedanya, tembok ratapan kita itu adalah tembok maya, sementara tembok ratapan orang yahudi itu bersifat nyata.
Ya, di sini kita bisa melihat bagaimana orang yahudi itu mengamalkan ajaran agamanya, bahkan sampai di dunia maya. Bukankah pemilik dan penggagas facebook ini adalah orang yahudi?

4. Apa Hubungan Tembok Ratapan dengan Wall Facebook?
Pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, seorang Yahudi yang lahir di New York pada 14 Mei 1984. Tahun 1984 adalah tahun dimana George Orwell menulis dalam bukunya, sebagai deklarasi tahun peperangan untuk menguasai dunia. Nama lain dari New York adalah Little Israel (Israel Kecil), karena kota ini menjadi tempat tumbuh subur dan berkembang para Yahudi di AS.
Zuckerberg mengoperasikan Facebook di seluruh dunia di sebuah kamar kecil di Harvard, sebuah institusi pendidikan yang dipegang oleh Yahudi. Dan nama Facebook berakar kata dengan Faceit, sebuah kata yang terkenal sebagai jargon Yahudi dalam menguasai dunia. Jadi, Facebook bukanlah sebuah kebetulan.

Saat ini, jutaan orang hinggap di Facebook. Anda akan dianggap mahluk aneh ketika hidup di kota namun tidak mempunyai account Facebook. Facebook yang memungkinkan pertama kali orang mengakses jaringan maya selama 24 jam karena kemudahan GPRS di telefon genggam. Hingga, dengan mudah, semua orang bisa diketahui keberadaannya.

Kenapa di Facebook mempunyai Wall (Dinding/Tembok)? Karena pemiliknya -Mark Zuckerberg- adalah orang Yahudi – walau kabar terakhir dia mengproklamirkan diri sebagai atheis-, (mungkin) terinspirasi dari salah satu tempat suci Yahudi di Yerusalem yang bernama Tembok Ratapan. Dimana kaum Yahudi melakukan ritual ibadah dengan berdoa dan meratapi dosa-dosa mereka dengan penuh penyesalan. Selain mengucapkan doa - doa mereka, orang Yahudi juga meletakkan doa mereka yang ditulis pada sepotong kertas yang disisipkan pada celah - celah dinding itu. Itulah (mungkin) inspirasi Facebook Wall, untuk curhat, dan sebagainya.

4. Kesimpulannya
Menurut saya menggunakan Facebook itu gak apa - apa asal niatnya gak ikut - ikut seperti mereka yang meratap dan berdo'a di Dinding seolah TUHAN lebih mendengar kalau lewat situ.


 Foto Tembok Ratapan dari jauh

5. Siapa Mark Zuckerberg? 
Pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, seorang Yahudi yang lahir di New York pada 14 Mei 1984. Tahun 1984 adalah tahun dimana George Orwell menulis dalam bukunya, sebagai deklarasi tahun peperangan untuk menguasai dunia. Nama lain dari New York adalah Little Israel (Israel Kecil), karena kota ini menjadi tempat tumbuh subur dan berkembang para Yahudi di AS.

Zuckerberg mengoperasikan Facebook di seluruh dunia di sebuah kamar kecil di Harvard, sebuah institusi pendidikan yang dipegang oleh Yahudi. Dan nama Facebook berakar kata dengan Faceit, sebuah kata yang terkenal sebagai jargon Yahudi dalam menguasai dunia. Jadi, Facebook bukanlah sebuah kebetulan.

Saat ini, jutaan orang hinggap di Facebook. Anda akan dianggap mahluk aneh ketika hidup di kota namun tidak mempunyai account Facebook. Facebook yang memungkinkan pertama kali orang mengakses jaringan maya selama 24 jam karena kemudahan GPRS di telefon genggam. Hingga, dengan mudah, semua orang bisa diketahui keberadaannya.
Dengan mempunyai account Facebook, itu artinya, Anda membiarkan isi hati Anda bicara di depan publik.


6. Sekedar Renungan dan Nasehat
Terus terang hati ini merasa tidak enak melihat banyak status tidak jelas dan kurang bermanfaat muncul dari account teman-teman. Tidak mengapa jika yang ditulis atau disampaikan berupa ilmu, nasehat atau info-info yang bermanfaat. Namun kalau sekedar isi hati, luapan perasaan, kekecewaan, kegaguman atau entah apapun namanya yang kiranya tidak bermanfaat maka kiranya tidak perlu ditulis/ disampaikan lewat fb atau yang lainnya. Selain hal itu sia-sia, hal tersebut juga tidak baik untuk menjaga ‘privasi’ dan muru’ah/kehormatan diri. Hendaknya kita senantiasa menjaga waktu kita, jangan hanya dihabiskan untuk sekedar update status atau membalas/berkomentar pada status- status yang tidak jelas.

Betapa indah apa yang disampaikan Rasulullah,
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata : “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : “Sebagian dari kebaikan keislaman seseorang ialah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.” [Hadis hasan riwayat Tirmidzi (no. 2318) dan lainnya]

7. Waktu yang Sia-Sia Di Depan Facebook
Saudaraku, inilah yang kami ingatkan untuk para pengguna facebook. Ingatlah waktumu! Kebanyakan orang betah berjam-jam di depan facebook, bisa sampai 5 jam bahkan seharian, namun mereka begitu tidak betah di depan Al Qur’an dan majelis ilmu. Sungguh, ini yang kami sayangkan bagi saudara-saudaraku yang
begitu gandrung dengan facebook. Oleh karena itu, sadarlah!!
Semoga beberapa nasehat ulama kembali menyadarkanmu tentang waktu dan hidupmu.

Imam Asy Syafi’i rahimahullah pernah mengatakan:
“Aku pernah bersama dengan seorang sufi. Aku tidaklah mendapatkan pelajaran darinya selain dua hal. Pertama, dia mengatakan bahwa waktu bagaikan pedang. Jika kamu tidak memotongnya (memanfaatkannya), maka dia akan memotongmu.”

Lanjutan dari perkataan Imam Asy Syafi’i di atas:
“Kemudian orang sufi tersebut menyebutkan perkataan lain: Jika dirimu tidak tersibukkan dengan hal-hal yang baik (haq), pasti akan tersibukkan dengan hal-hal yang sia-sia (batil).” (Al Jawabul Kafi, 109, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah).

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan:
“Waktu manusia adalah umurnya yang sebenarnya. Waktu tersebut adalah waktu yang dimanfaatkan untuk mendapatkan kehidupan yang abadi dan penuh kenikmatan dan terbebas dari kesempitan dan adzab yang pedih. Ketahuilah bahwa berlalunya waktu lebih cepat dari berjalannya awan (mendung). Barangsiapa yang waktunya hanya untuk ketaatan dan beribadah pada Allah, maka itulah waktu dan umurnya yang sebenarnya. Selain itu tidak dinilai sebagai kehidupannya, namun hanya teranggap seperti kehidupan binatang ternak.”

Ingatlah … Kematian Lebih Layak Bagi Orang yang Menyia-nyiakan Waktu.

Ibnul Qayyim mengatakan perkataan selanjutnya yang sangat menyentuh qolbu:
“Jika waktu hanya dihabiskan untuk hal-hal yang membuat lalai, untuk sekedar menghamburkan syahwat (hawa nafsu),
berangan-angan yang batil, hanya dihabiskan dengan banyak tidur dan digunakan dalam kebatilan, maka sungguh kematian lebih layak bagi dirinya.” (Al Jawabul Kafi, 109)

8. Marilah Memanfaatkan Facebook untuk Dakwah
Inilah pemanfaatan yang paling baik yaitu Facebook dimanfaatkan untuk dakwah. Betapa banyak orang yang senang dikirimi pesan nasehat agama yang dibaca di inbox, note atau melalui link mereka. Banyak yang sadar dan kembali kepada jalan kebenaran karena membaca nasehat-nasehat tersebut. Jadilah orang yang bermanfaat bagi orang lain
apalagi dalam masalah agama yang dapat mendatangkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Dari Jabir, Nabi SAW bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling memberikan manfaat bagi orang lain.” (Al Jaami’ Ash Shogir, no. 11608)
Dari Abu Mas’ud Al Anshori, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa memberi petunjuk pada orang lain, maka dia mendapat ganjaran sebagaimana ganjaran orang yang melakukannya.”  (HR. Muslim)
Rasulullah SAW juga bersabda, “Jika Allah memberikan hidayah kepada seseorang melalui perantaraanmu maka itu lebih baik bagimu daripada mendapatkan unta merah (harta yang paling berharga orang Arab saat itu).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Lihatlah saudaraku, bagaimana jika tulisan kita dalam note, status, atau link di facebook dibaca oleh 5, 10 bahkan ratusan orang, lalu mereka amalkan, betapa banyak pahala yang kita peroleh. Jadi, facebook jika dimanfaatkan untuk dakwah semacam ini, sungguh sangat bermanfaat.
Setiap saat para facebooker meng update statusnya agar bisa dinikmati dan dikomentarin lainnya. Lupa atau sengaja hal-hal yang semestinya menjadi konsumsi internal keluarga, menjadi kebanggaan di statusnya. Dan fenomena demikian menjadi Tanda Besar buat kita umat Islam, hegemoni ‘kesenangan semu’ dan dibungkus dengan ‘persahabatan
fatamorgana’ ditampilkan dengan mudahnya celoteh dan status dalam facebook yang melindas semua tata krama tentang malu, tentang menjaga Kehormatan Diri dan keluarga .
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan dengan sindiran keras kepada kita, “Apabila kamu tidak malu maka perbuatlah apa yang kamu mau.” (Bukhari).
Beberapa orang sering dgn mudahnya meng-up date status mereka dgn kata-kata yg tidak jelas, entah apa tujuannya selain untuk numpang beken, cari perhatian dan pengin ada komentar- komentar dari lainnya.
Seperti : 
• Dingin
• B.E.T.E 
• Capek
• Puanass buaget neh !
• Arghhh .. . !!!! 
• Gila tuh orang !
• Aku masih menanti . . .
• Galau..!!
• Dan Lainnya

Lihat link lainnya tentang :
• The Truth about Facebook : http://www.youtube.com/watch?v=GqRMTmEUlvY

• Negative Effects of Facebook : http://www.youtube.com/watch?v-X38N8lS78g&feature=related

• The Truth Behind Facebook, What is it Really For? : http://www.youtube.com/watch?v=VXIdCEbwh9I&feature=related

• Ten Things Facebook Didn't Tell You! : http://www.youtube.com/watch?v=E1XGvcNjxc8&feature=related

• The World Is Obsessed With Facebook : http://www.youtube.com/watch?v=xJXOavGwAW8&feature=related

• Facebook Illuminati Satanic Mark Zuckerberg The New World Order :
  http://www.youtube.com/watch?v=KrBMi1RgPAQ&feature=related

• The World Without Facebook : http://www.youtube.com/watch?v=ocXX619kaPM&feature=related

• The World of Social Media in 2011 - All The Statistics, Facts and Figures :
  http://www.youtube.com/watch?v=mgp7GwHxV14&feature=related
Para Yahudi sedang meratapi dosa dan berdoa di Tembok Ratapan.

1 Komentar:

Budayakan memberi komentar setelah membaca

Senin, 18 Maret 2013

Sejarah Bahasa Indonesia

Diposting oleh Unknown





Bahasa Indonesia lahir pada tanggal 28 Oktober 1928. pada saat itu, para pemuda dari berbagai pelosok Nusantara berkumpul dalam Kerapatan Pemuda dan berikrar : 

(1) Bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia
(2) Berbangsa yang satu, bangsa Indonesia
(3) Menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. 

Ikrar para pemuda ini dikenal dengan nama Sumpah Pemuda.

Unsur yang ketiga dari Sumpah Pemuda merupakan pernyataan tekad bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan bangsa Indonesia. Pada tahun 1928 itulah bahasa Indonesia dikukuhkan kedudukannya sebagai bahasa nasional.

Bahasa Indonesia dinyatakan kedudukannya sebagai bahasa negara pada tanggal 18 Agustus 1945 karena pada saat itu Undang-Undang Dasar 1945 disahkan sebagai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa Bahasa negara ialah bahasa Indonesia (Bab XV, Pasal 36).

Keputusan Kongres Bahasa Indonesia II tahun 1954 di Medan, antara lain, menyatakan bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang dari bahasa Melayu yang sejak zaman dulu sudah dipergunakan sebagai bahasa perhubungan (lingua franca) bukan hanya di Kepulauan Nusantara, melainkan juga hampir di seluruh Asia Tenggara.

Bahasa Melayu mulai dipakai di kawasan Asia Tenggara sejak abad ke-7. Bukti yang menyatakan itu ialah dengan ditemukannya prasasti di Kedukan Bukit berangka tahun 683 M (Palembang), Talang Tuwo berangka tahun 684 M (Palembang), Kota Kapur berangka tahun 686 M (Bangka Barat), dan Karang Brahi berangka tahun 688 M (Jambi). Prasasti itu bertuliskan huruf Pranagari berbahasa Melayu Kuna. Bahasa Melayu Kuna itu tidak hanya dipakai pada zaman Sriwijaya karena di Jawa Tengah (Gandasuli) juga ditemukan prasasti berangka tahun 832 M dan di Bogor ditemukan prasasti berangka tahun 942 M yang juga menggunakan bahasa Melayu Kuna.

Pada zaman Sriwijaya, bahasa Melayu dipakai sebagai bahasa kebudayaan, yaitu bahasa buku pelajaran agama Budha. Bahasa Melayu juga dipakai sebagai bahasa perhubungan antarsuku di Nusantara dan sebagai bahasa perdagangan, baik sebagai bahasa antarsuku di Nusantara maupun sebagai bahasa yang digunakan terhadap para pedagang yang datang dari luar Nusantara.

Informasi dari seorang ahli sejarah Cina, I-Tsing, yang belajar agama Budha di Sriwijaya, antara lain, menyatakan bahwa di Sriwijaya ada bahasa yang bernama Koen-louen (I-Tsing:63,159), Kou-luen (I-Tsing:183), K’ouen-louen (Ferrand, 1919), Kw’enlun (Alisjahbana, 1971:1089). Kun’lun (Parnikel, 1977:91), K’un-lun (Prentice, 1078:19), yang berdampingan dengan Sanskerta. Yang dimaksud Koen-luen adalah bahasa perhubungan (lingua franca) di Kepulauan Nusantara, yaitu bahasa Melayu.

Perkembangan dan pertumbuhan bahasa Melayu tampak makin jelas dari peninggalan kerajaan Islam, baik yang berupa batu bertulis, seperti tulisan pada batu nisan di Minye Tujoh, Aceh, berangka tahun 1380 M, maupun hasil susastra (abad ke-16 dan ke-17), seperti Syair Hamzah Fansuri, Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, Tajussalatin, dan Bustanussalatin.

Bahasa Melayu menyebar ke pelosok Nusantara bersamaan dengan menyebarnya agama Islam di wilayah Nusantara. Bahasa Melayu mudah diterima oleh masyarakat Nusantara sebagai bahasa perhubungan antarpulau, antarsuku, antarpedagang, antarbangsa, dan antarkerajaan karena bahasa Melayu tidak mengenal tingkat tutur.

Bahasa Melayu dipakai di mana-mana di wilayah Nusantara serta makin berkembang dan bertambah kukuh keberadaannya. Bahasa Melayu yang dipakai di daerah di wilayah Nusantara dalam pertumbuhannya dipengaruhi oleh corak budaya daerah. Bahasa Melayu menyerap kosakata dari berbagai bahasa, terutama dari bahasa Sanskerta, bahasa Persia, bahasa Arab, dan bahasa-bahasa Eropa. Bahasa Melayu pun dalam perkembangannya muncul dalam berbagai variasi dan dialek.

Perkembangan bahasa Melayu di wilayah Nusantara mempengaruhi dan mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia. Komunikasi antarperkumpulan yang bangkit pada masa itu menggunakan bahasa Melayu. Para pemuda Indonesia yang tergabung dalam perkumpulan pergerakan secara sadar mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia, yang menjadi bahasa persatuan untuk seluruh bangsa Indonesia (Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928).

Kebangkitan nasional telah mendorong perkembangan bahasa Indonesia dengan pesat. Peranan kegiatan politik, perdagangan, persuratkabaran, dan majalah sangat besar dalam memodernkan bahasa Indonesia.

Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945, telah mengukuhkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia secara konstitusional sebagai bahasa negara. Kini bahasa Indonesia dipakai oleh berbagai lapisan masyarakat Indonesia, baik di tingkat pusat maupun daerah.

0 Komentar:

Budayakan memberi komentar setelah membaca

Sabtu, 16 Maret 2013

7 Kota Paling Penuh Dosa Di Dunia

Diposting oleh Unknown

Manusia memang tidak pernah luput dari dosa. Dosa adalah hasil perbuatan jahat manusia. Mengapa manusia berbuat jahat? Karena menusia ingin mendapatkan sesuatu menurut keinginannya tanpa menghargai nilai-nilai kebaikan dan kebenaran. Dari kedua pertanyaan ini terlihat jelas siapa manusia yang sebenarnya.

Dirinya berdosa akibat keinginannya tanpa menghargai nilai kebaikkan dan kebenaran, atau dengan kata lain, semua yang jadi keinginannya yang jahat karena telah termotivasi oleh dorongan hawa nafsu dari setan.

• Berikut adalah 7 Kota Paling Penuh Dosa Di Dunia :

1. Pattaya. (Thailand)

 
Terkenal dengan julukan “Entertainment” in Thai coba saja jalan - jalan ke South Pattaya pasti banyak tuh pemandangan menarik, apalagi di pantainya bisa - bisa nggak kedip.

2. Tijuana. (Mexico)


 Di sana ada zona “merah” di Tijuana, disebut “La Coahuila”. Mulai dari prostitusi, d rugs, strips clubs, semuanya dilegalkan! Udah gitu murah lagi.

3. Amsterdam. (Belanda)


Live ‘sex’ bisa dilihat di kota ini, Marijuana dan semacamnya semuanya legal.

4. Las Vegas. (Nevada) 


Judi bisa ditemui dimana-mana. Prostitusi walaupun tidak explisit legal, tapi sudah dianggap legal. Judi dan sex sudah menjadi industri.

5. Rio De Jeneiro. (Brasil)


Pusatnya legalisasi sex bebas, bahkan ada istilah “sex” party management”. Ih Ngeri.

6. Moscow. (Russia)


Dari hasil survey salah satu lembaga, Rusia tercatat sebagai pengimpor anak-anak di bawah umur terbanyak di dunia untuk bekerja sebagai PSK. Nyatanya bermacam night club bertebaran di sudut-sudut kota.

7. New Orleans. (Louisiana)


Setelah diterjang badai Katrina beberapa bulan lalu, kota ini menjadi pusat komersialisasi Sex Bebas.
 
# Ini pengetahuan, bukan porno.

0 Komentar:

Budayakan memberi komentar setelah membaca

Penyakit Langka : Kulit Kepala Menyerupai Otak

Diposting oleh Unknown


Lipatan aneh tampak jelas terlihat di seluruh kulit kepala seorang pria asal Brazil. Bukan, ini bukan trend rambut terbaru ya !!

• Penyakit Langka : Kulit Kepala Menyerupai Otak

Pria berusia 21 tahun ini menderita sebuah penyakit langka, yang dikenal sebagai Cutis verticis gyrata. Cutis verticis gyrata merupakan sebuah penyakit dimana kulit kepala memiliki 'alur menyerupai permukaan otak'.

Pria ini mengaku penampilan aneh ini timbul saat usianya menginjak 19 tahun. Kulit kepalanya mulai berubah, dari awalnya lebih tebal menjadi lebih lembut, kenyal, sehingga membuat kulit kepalanya terlihat seperti otak.

Menurut Dr. Karen Schons, dokter kulit di Rumah Sakit Universitario de Santa Maria Brazil, penyakit ini lebih sering terjadi pada pria dan umunya berkembang setelah masa puber. Hingga kini, penyebabnya belum diketahui.

Para dokter meyakini penyakit ini tidak disebabkan oleh masalah psikologis atau neurologis. Namun, penyakit ini diperkirakan bisa memicu cacat kognitif atau otak, termasuk schizophrenia dan kejang.

0 Komentar:

Budayakan memberi komentar setelah membaca

Virus Paling Berbahaya Bagi Manusia

Diposting oleh Unknown

1. HIV / AIDS

Pita Merah terlipat adalah simbol solidaritas orang-orang yang positif terinfeksi virus HIV dan AIDS.
Virus yang satu ini menyerang kekebalan tubuh dan ilmuwan telah mendapatkan obatnya (KLIK DI SINI UNTUK MENGETAHUI OBATNYA). Ibarat menunggu kematian kalau sudah terjangkit virus ini.

2. Ebola, Hanta & Demam Berdarah

Virus Ebola
Virus Hanta
Nyamuk Demam Berdarah
Ketiga virus ini menyerang tubuh melalui virus yang menyebar bersama darah korban.
Virus ini menyebar melalui kotoran hewan dan udara bebas.

3. Rabies
 
Berbusa di mulut, kesulitan menelan, seorang gila takut air, kemarahan, delusi dan halusinasi adalah dampak langung dari virus ini. Menyebar melalui air liur hewan (biasanya melalui gigitan anjing). Jika virus rabies menyerang sistem saraf maka amat mematikan apabila telah sampai ke otak. 

4. Bakteri Kebal Antibiotik

 
Merupakan mutasi dari bakteri antibiotik yang menyerang sistem imun tubuh. 

5. Naegleria (Bakteri Amoeba Pemakan Jaringan Otak)


Amoeba kecil ini menyerang jaringan otak yang di tandai dengan tubuh kejang mulai, diikuti oleh koma. Hidup pada perairan hangat Amerika masuk ke tubuh melalui lubang hidung. 

6. Virus Sapi Gila
Penyakit sapi gila, juga dikenal sebagai bovine spongiform encephalopathy. Dikenal sebagai varian Creutzfeldt-Jakob, penyakit menular melalui daging yang terkontaminasi dan menyebabkan sejumlah gejala neurologis mengerikan degeneratif, termasuk demensia, kehilangan sistem saraf dan otot kontrol, dan akhirnya, kematian. contoh seorang terkena penyakit sapi gila

7. Kusta dan Lepra

 
Penyakit, juga dikenal sebagai penyakit Hansen, disebabkan oleh Mycobacterium leprae, sebuah bakteri yang menginfeksi saraf perifer. Tanpa fungsi syaraf untuk merasa sakit dan suhu, pasien dapat sering secara tidak sengaja melukai diri sendiri dan infeksi oportunistik dapat mengambil terus, kadang-kadang menyebabkan hilangnya jari atau jari kaki. Selama berabad-abad, penyakit ini diyakini sebagai kutukan. Cerita berlimpah tentang gejala yang menakutkan seperti kulit berubah menjadi daging mati dan anggota badan yang secara tiba-tiba terlepas. 

8. Botulism 


BT adalah hasil karya dari tanah umum bakteri Clostridium botulinum. Bakteri dapat ditularkan melalui makanan yang tercemar dengan bakteri atau spora, atau melalui luka terbuka. Dalam satu atau dua hari, muncul gejala-gejala neurologis, termasuk bicara cadel, pandangan kabur dan kesulitan bernapas. Otot bergerak lebih lemah, refleks berhenti bekerja, tungkai bisa lumpuh. Akhirnya, diafragma dan otot-otot pernapasan lainnya berhenti bekerja, menyebabkan kematian. Antitoksin dan antibiotik dapat menghentikan perkembangan penyakit. 

9. Kaki Gajah

 
Disebarkan oleh gigitan nyamuk, cacing parasit yang menyebabkan kaki gajah bersarang di sistem getah bening, yang mengontrol respon imun dan retensi cairan hingga terjadi pembengkakan. Yang paling sering terjadi pembengkakan di kaki, tetapi dapat juga terjadi pada lengan, payudara atau bahkan alat kelamin, menyebabkan mereka membengkak dan cacat untuk ukuran besar.  

10. Polio 


Pada puncak epidemi polio di tahun 1950-an, ada lebih dari 13.000 kasus yang melibatkan kelumpuhan dan 1.000 kematian setiap tahun dari penyakit, banyak dari mereka anak-anak di seluruh dunia. 

# Betapa pentingnya Kesehatan bagi Kita semua ^_^

0 Komentar:

Budayakan memberi komentar setelah membaca

Soekarno Nyaris Terbunuh

Diposting oleh Unknown

Tahukah Anda bahwa Bung Karno pernah mengalami sesuai judul di atas???
Faktanya seperti itu. Presiden pertama Indonesia itu dilempar granat pada suatu malam hari di jalan Cendrawasih. Ketika itu Bung Karno dalam perjalanan menuju Gedung Olahraga Mattoangin untuk menghadiri suatu acara.Untung, lemparan granat itu meleset dan jatuh mengenai mobil rombongan yang lain dan tidak menimbulkan cedera apapun.Bung Karno juga menerima serangan terhadap dirinya ketika dia menuju Bandara Mandai. Setidaknya, antara tahun 1950 sampai 1965 telah terjadi 6 kali percobaan pembunuhan terhadap Bung Karno.
Semoga Presiden Indonesia yang lainnya tidak mendapat hal buruk seperti Bung Karno ini :D

0 Komentar:

Budayakan memberi komentar setelah membaca

Bung Karno Dibunuh Oleh Orde Baru

Diposting oleh Unknown

Selasa Kliwon, 16 Juni 1970, 11 Rabiulawal 1390H. Sedari pagi, suasana mencekam sudah terasa. Kabar yang berhembus mengatakan, mantan Presiden Sukarno akan dibawa ke rumah sakit dari rumah tahanannya di Wisma Yaso, yang hanya berjarak lima kilometer.
Malamnya, desas-desus itu terbukti. Di dalam ruang perawatan yang sangat sederhana untuk ukuran seorang mantan presiden, Sukarno tergolek lemah di pembaringan. Sudah beberapa hari kesehatannya sangat mundur. Sepanjang hari, orang yang dulu pernah sangat berkuasa ini, terus memejamkan mata. Suhu tubuhnya sangat tinggi. Penyakit ginjal yang tidak dirawat secara semestinya, kian menggerogoti kekuatan tubuhnya.
Lelaki yang sangat kharismatik dan macho ini, dan banyak digilai perempuan seantero jagad, tak ubahnya sesosok mayat hidup. 



Tiada lagi wajah gantengnya. Gigi gingsulnya membengkak, tanda bahwa racun telah menyebar ke mana-mana. Bukan hanya bengkak, tapi bolong-bolong bagaikan permukaan bulan. Mulutnya yang dahulu mampu menyihir jutaan massa, dengan pidato-pidatonya yang sangat memukau, kini hanya terkatup rapat dan kering. Sebentar-sebentar bibirnya gemetar, menahan sakit. Kedua tangannya yang dahulu sanggup meninju langit dan mencakar udara, kini tergolek lemas di sisi tubuhnya yang kian kurus.
Dua hari kemudian, Megawati, anak sulung dari Fatmawati diizinkan tentara untuk mengunjungi ayahnya. Menyaksikan ayahnya yang tergolek lemah, dan tidak mampu membuka matanya, kedua mata Mega mengembang berkaca-kaca. Bibirnya secara perlahan didekatkan ke telinga bapaknya, “Pak, Pak, ini Ega,…”
Tak ada jawaban. Senyap.
Ayahnya tak bergerak. Kedua matanya juga tidak membuka. Namun kedua bibir Sukarno yang telah pecah-pecah, bergerak-gerak kecil. Gemetar. Seolah ingin mengatakan sesuatu pada puteri sulungnya itu.
Sukarno tampak mengetahui kehadiran Megawati. Tapi dia tidak mampu membuka mata. Tangan kanannya bergetar seolah ingin menuliskan sesuatu, untuk puteri sulungnya. Tapi tubuhnya terlampau lemah, untuk sekadar menulis. Tangannya kembali terkulai. Sukarno terdiam lagi.
Melihat kenyataan itu, perasaan Megawati amat terpukul. Air matanya yang sedari tadi ditahan kini menitik jatuh. Kian deras. Perempuan muda itu menutupi hidungnya dengan sapu tangan. Tak kuat menerima kenyataan. Megawati menjauh dan limbung. Ia segera dipapah keluar.
Jarum jam terus berdetak. Satu-satu. Di luar kamar, sepasukan tentara terus berjaga. Lengkap dengan senjata.
Malam harinya, ketahanan tubuh Sukarno jebol. Dia koma. Antara hidup dan mati. Tim dokter segera memberikan bantuan seperlunya.
Keesokan hari, mantan wakil presiden Mohammad Hatta, diizinkan mengunjungi kolega lamanya ini. Hatta yang ditemani sekretarisnya, menghampiri pembaringan Sukarno dengan sangat hati-hati. Dengan segenap kekuatan yang berhasil dihimpunnya, Sukarno berhasil membuka matanya. Menahan rasa sakit yang tak terperi. Sukarno berkata lemah, “Hatta,... kau di sini?”
Yang disapa tidak bisa menyembunyikan kesedihan. Namun Hatta tidak mau kawannya ini mengetahui, jika dirinya bersedih. Dengan sekuat tenaga memendam kepedihan yang mencabik hati, Hatta berusaha menjawab Sukarno dengan wajar. Sedikit tersenyum menghibur, “Ya, bagaimana keadaanmu, No?”
Hatta menyapanya dengan sebutan yang digunakan di masa lalu. Tangannya memegang lembut tangan Sukarno. Panas menjalari jemarinya. Dia ingin memberikan kekuatan pada orang yang sangat dihormatinya itu.
Bibir Sukarno bergetar. Tiba-tiba, masih dengan lemah, dia balik bertanya dengan bahasa Belanda. Sesuatu yang biasa mereka berdua lakukan, ketika mereka masih bersatu dalam Dwi Tunggal, “Hoe gaat het met jou,…?”
Sukarno menanyakan bagaimana keadaan Hatta. Hatta memaksakan diri tersenyum. Tangannya masih memegang lengan Sukarno.
Sukarno kemudian terisak. Bagai anak kecil.
Lelaki perkasa itu menangis, di depan kawan seperjuangannya. Bagai bayi yang kehilangan mainan. Hatta tidak lagi mampu mengendalikan perasaan. Pertahanannya bobol. Airmatanya juga tumpah. Hatta ikut menangis.
Kedua teman lama yang sempat berpisah itu, saling berpegangan tangan. Seolah takut berpisah. Hatta tahu, waktu yang tersedia bagi orang yang sangat dikaguminya ini, tidak akan lama lagi. Dan Hatta juga tahu, betapa kejamnya siksaan yang dialami sahabatnya itu. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh manusia yang tidak punya nurani.
“No,…”
Hanya itu yang bisa terucap dari bibir Hatta. Ia tidak mampu mengucapkan lebih. Bibirnya bergetar menahan kesedihan, sekaligus kekecewaan. Bahunya terguncang-guncang.
Jauh di lubuk hatinya, Hatta sangat marah pada penguasa baru, yang sampai hati menyiksa bapak bangsa itu. Walau prinsip politik antara dirinya dengan Sukarno tidak bersesuaian, namun hal itu sama sekali tidak merusak persahabatannya (dengan Sukarno), yang demikian erat dan tulus.
Hatta masih memegang lengan Sukarno, ketika kawannya ini kembali memejamkan mata.
Jarum jam terus berdetak-detuk. Merambati angka demi angka.
Sisa waktu bagi Sukarno semakin menipis. Mendesak ke jantungnya yang kian lemah.
Sehari setelah pertemuan dengan Hatta, kondisi Sukarno yang sudah buruk, terus merosot. Putera Sang Fajar itu tidak mampu lagi membuka kedua matanya. Suhu badannya terus meninggi. Sukarno kini menggigil. Peluh membasahi bantal dan piyama.
Malamnya, Dewi Soekarno dan Karina, puterinya yang masih berusia tiga tahun, datang di rumah sakit. Sukarno belum pernah sekali pun melihat anaknya itu.
Minggu pagi, atau Ahad Kliwon, 21 Juni 1970. Dokter Mahar Mardjono, salah seorang anggota tim dokter kepresidenan, seperti biasa melakukan pemeriksaan rutin. Bersama dua orang paramedis, dr Mahar Mardjono memeriksa kondisi pasien istimewanya ini.
Sebagai seorang dokter yang telah berpengalaman, Mardjono tahu, waktunya tidak akan lama lagi. Dengan sangat hati-hati dan penuh hormat, dia memeriksa denyut nadi Sukarno. Dengan sisa kekuatan yang masih ada, Sukarno menggerakkan tangan kanannya. Memegang lengan dokternya.
Mardjono merasakan panas yang demikian tinggi, dari tangan yang amat lemah ini. Tiba-tiba tangan yang panas itu terkulai. Detik itu juga, Sukarno menghembuskan nafas terakhirnya. Kedua matanya tidak pernah mampu lagi untuk membuka. Tubuhnya tergolek. Tak bergerak lagi. Untuk selamanya.
Situasi di sekitar ruangan sangat sepi. Udara sesaat terasa berhenti mengalir. Suara burung yang biasa berkicau, tiada terdengar. Kehampaan. Kehampaan sepersekian detik yang begitu mencekam. Sekaligus menyedihkan.
Dunia melepas salah seorang pembuat sejarah yang penuh kontroversi. Banyak orang menyayanginya, banyak pula yang membenci. Namun semua sepakat, Sukarno adalah seorang manusia yang tidak biasa. Manusia besar, juga dengan musuh-musuh besar. Dan itu belum tentu dilahirkan kembali, dalam waktu satu abad.
Dokter Mardjono segera memanggil seluruh rekannya, sesama tim dokter kepresidenan. Tak lama kemudian mereka mengeluarkan pernyataan resmi: Sukarno telah meninggal.
Berita kematian Bung Karno, dengan cara yang amat menyedihkan menyebar ke seantero Pertiwi. Banyak orang percaya, Bung Karno sesungguhnya dibunuh secara perlahan, oleh rezim penguasa yang baru.
Bangsa ini benar-benar berkabung. Putera Sang Fajar telah pergi dengan status tahanan rumah. Padahal dia merupakan salah satu proklamator kemerdekaan bangsa ini, dan telah menghabiskan 25 tahun usia hidupnya, mendekam dalam penjara kolonial Belanda, demi kemerdekaan negerinya



Keyakinan banyak orang, bahwa Bung Karno dibunuh secara perlahan, mungkin bisa dilihat dari cara pengobatan proklamator RI ini, yang segalanya diatur secara ketat dan represif oleh Presiden Soeharto. Bung Karno, ketika sakit ditahan di Wisma Yaso (Yaso adalah nama saudara laki-laki Dewi Soekarno, yang dikenakan untuk nama rumah yang ditempati Dewi Sukarno, dan gedung ini kemudian menjadi Museum Angkatan Darat, di jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat). Penahanan ini membuatnya amat menderita lahir dan bathin. Anak-anaknya pun tidak dapat bebas mengunjunginya.
Banyak resep tim dokternya, yang dipimpin dr. Mahar Mardjono, tidak dapat ditukar dengan obat. Ada tumpukan resep di sebuah sudut, di tempat penahanan Bung Karno. Resep-resep untuk mengambil obat di situ tidak pernah ditukarkan (dengan obat).
Bung Karno memang dibiarkan sakit, dan mungkin dengan begitu diharapkan, oleh penguasa baru Soeharto, agar bisa mempercepat kematian. Permintaan dari tim dokter Bung Karno untuk mendatangkan alat-alat kesehatan dari Cina pun, dilarang oleh Presiden Soeharto. “Bahkan untuk sekedar menebus obat dan mengobati gigi yang sakit, harus seizin dia, ” demikian Rachmawati Soekarnoputeri pernah bercerita (www.andists.info).
Ini saya kutipkan tulisan seorang Sukarnois mengenai tanggal 21 Juni 1970; “Pak Karno seda,…” demikian seorang lelaki sedang menangis sesenggukan. Ia mengabarkan pada isterinya, Sukarno, Bung Karno, meninggal. Ia adalah seorang yang mengetahui kondisi dan fisik Bung Karno di Wisma Yaso.
Mereka pun kemudian dengan menumpang kendaraan militer, bisa sampai di Wisma Yaso. Suasana sungguh sepi. Tidak ada penjagaan dari kesatuan lain, kecuali tiga truk berisi prajurit Marinir (dulu KKO). Saat itu memang Angkatan Laut, khususnya KKO, sangat loyal terhadap Bung Karno. Jenderal KKO Hartono, pernah berkata, “Hitam kata Bung Karno, hitam kata KKO. Merah kata Bung Karno, merah kata KKO!”
Banyak prediksi memperkirakan, andai saja Bung Karno menolak untuk turun tahta, dia dengan mudah akan melibas mahasiswa dan pasukan Jendral Soeharto. Karena dia masih didukung oleh KKO, Angkatan Udara, beberapa divisi Angkatan Darat seperti Brawijaya, dan terutama Siliwangi dengan panglima Mayjen Ibrahim Ajie.
Namun Bung Karno terlalu cinta terhadap negerinya. Sedikitpun ia tidak mau memilih opsi pertumpahan darah, bagi sebuah bangsa yang telah dipersatukannya dengan susah payah. Ia memilih sukarela turun, dan membiarkan dirinya menjadi tumbal sejarah.
The winner takes it all. Begitulah sang pemenang tak akan sedikitpun menyisakan ruang bagi mereka yang kalah. Sukarno harus meninggalkan istana, pindah ke istana Bogor. Begitu turun tahta, tak berapa lama datang surat dari Panglima Kodam Jaya, Mayjend Amir Mahmud, disampaikan jam 8 pagi pada waktu Maret 1966, yang meminta bahwa Istana Bogor harus sudah dikosongkan jam 11 siang.
Buru-buru Ibu Hartini, istri Bung Karno, mengumpulkan pakaian dan barang-barang yang dibutuhkan, serta membungkusnya dengan kain sprei. Barang-barang lain semuanya ditinggalkan.
“Het is niet meer mijn huis,… “ sudahlah, ini bukan rumah saya lagi, demikian Bung Karno menenangkan istrinya.
Sejarah kemudian mencatat, Sukarno pindah ke Istana Batu Tulis , Bogor, sebelum akhirnya dimasukkan ke dalam karantina di Wisma Yaso. Beberapa panglima dan loyalis, dipenjara. Jendral Ibrahim Adjie diasingkan, menjadi dubes di London. Jendral KKO Hartono, secara misterius, mati terbunuh di rumahnya.
Menurut penuturan saksi mata di Wisma Yaso; Saat itu belum banyak yang datang, termasuk keluarga Bung Karno. Mereka tak tahu, Bung Karno masih di RSPAD sebelumnya, atau dibawa ke Wisma Yaso.
Jenasah Bung Karno, berada di ruangan kamar yang suram di Wisma Yaso. Terbujur mengenaskan. Hanya ada Bung Hatta dan Ali Sadikin, Gubernur Jakarta waktu itu, yang juga berasal dari KKO Marinir.
Bung Karno meninggal masih mengenakan sarung lurik warna merah, serta baju hem coklat. Wajahnya bengkak-bengkak, dan rambutnya sudah botak.
Kita tidak membayangkan kamar yang bersih, dingin ber-AC ,dan penuh dengan alat-alat medis di sebelah tempat tidurnya. Tak ada. Jauh dari itu semua. Yang ada hanya termos, dengan gelas kotor, serta sesisir buah pisang yang sudah hitam, dipenuhi jentik-jentik seperti nyamuk.
Kamar itu agak luas, dan jendelanya blong tanpa gorden. Dari dalam bisa terlihat, halaman belakang ditumbuhi rumput alang-alang setinggi dada manusia!
Jasad Bung Karno kemudian dipindahkan ke atas karpet, di lantai ruang tengah. Beberapa orang disana, sungkem (membungkuk hormat) kepada jenasah, sebelum akhirnya Guntur Soekarnoputra datang, dan juga orang orang lain.
Namun Pemerintah Orde Baru juga kebingungan, kemana hendak dimakamkan jenasah proklamator? Walau Bung Karno berkeinginan agar dimakamkan di Istana Batu Tulis, pihak militer beralasan tetap tak mau mengambil resiko, apabila makam seorang Sukarno berdekatan dengan ibukota.
Maka dipilih Blitar, yang konon kota kelahirannya, sebagai peristirahatan terakhir. Dan tentu saja, Presiden Soeharto tidak menghadiri pemakaman ini. Belakangan diketahui, bahwa tidak benar Sukarno lahir di Blitar, melainkan Surabaya.
Dalam catatan Kolonel Saelan, bekas wakil komandan Cakrabirawa, “Bung Karno diinterogasi oleh Tim Pemeriksa Pusat di Wisma Yaso. Pemeriksaan dilakukan dengan cara-cara yang amat kasar, dengan memukul-mukul meja, dan memaksakan jawaban. Akibat perlakuan kasar terhadap Bung Karno, penyakitnya makin parah, karena memang tidak mendapatkan pengobatan yang seharusnya diberikan,“ (Dari Revolusi 1945 Sampai Kudeta 1966).
Dokter Kartono Mohamad, yang pernah mempelajari catatan tiga perawat Bung Karno sejak 7 Februari 1969 sampai 9 Juni 1970, serta mewancarai dokter Bung Karno; berkesimpulan telah terjadi penelantaran. Obat yang diberikan, hanya vitamin B, B12, dan duvadillan untuk mengatasi penyempitan darah. Padahal penyakitnya adalah gangguan fungsi ginjal. Obat yang lebih baik dan mesin cuci darah, tidak diberikan (Kartono Mohamad, Kompas, 11 Mei 2006).
Rachmawati Soekarnoputri, menjelaskan, “Bung Karno justru dirawat oleh dokter hewan saat di Istana Batu Tulis. Salah satu perawatnya, juga bukan perawat, tetapi dari Kowad (Korps Wanita Angkatan Darat),” (Rachmawati, Kompas 13 Januari 2008).
Apa yang terjadi pada Sukarno, sangat berbeda dengan Soeharto, yang setiap hari tersedia dokter-dokter dan peralatan canggih, untuk memperpanjang hidupnya, dan masih didampingi tim pembela yang dengan sangat gigih membela kejahatan yang dituduhkan. Tapi, toh nyawa Soeharto juga tak bisa dipanjang-panjangkan, sebagaimana keharuman namanya hanyalah pendek, sekali pun pemeriksaan dari kehakiman jadwalnya disesuaikan dengan jadwal tidur Jendral Besar itu.
Sukarno, lahir di Surabaya 6 Juni 1901, dan wafat di Jakarta pada 21 Juni 1970. He is Bung Karno, the Great Man! | Sebagian sumber informasi dari Iman Brotoseno, Andi St., dan beberapa nama.



SECUIL 21 JUNI 1970, KETIKA SUKARNO WAFAT | Anwari Doel Arnowo, seorang saksi sejarah (dan pelaku pertempuran Surabaya 10 Nopember 1945), yang hadir dari dekat saat prosesi pemakaman Bung Karno di Blitar, menuliskan kesaksiannya. Berikut adalah kesaksian dari Cak Doel Arnowo yang saya sunting bahasanya, juga karena panjangnya tulisan tersebut, tanpa mengurangi artinya:
Blitar. Pagi-pagi, 21 Juni 1970, saya sudah berada di sebuah lubang yang disiapkan untuk kuburan manusia. Sederhana sekali, sesederhana semua makam di sekelilingnya.
Sejak subuh, sudah ada sekitar seratusan manusia hidup, berada di situ. Dan semua hanya berada di situ, seolah membatu, tanpa mengetahui sedang “ngapain” mereka sebenarnya. Yang jelas, semuanya bermuka murung. Ada yang penuh airmata, tetapi bersinar dengan garang. Kelihatan roman muka yang marah. Ya, saya pun marah. Hanya saja saya bisa menahan diri, agar tidak terlalu kentara terlihat oleh umum.
Kami semua di kota Malang, mendengar tentang Bung Karno yang diberitakan telah meninggal dunia sejak pagi hari, dan sudah menyiapkan diri untuk menunggu keputusan pemakamannya di mana. Sesuai amanat almarhum, seperti sudah menjadi pengetahuan masyarakat umum, Bung Karno meminta agar dimakamkan pada sebuah tempat di pinggir kali, di bawah sebuah pohon yang rindang di Jawa Barat (asumsi semua orang, di rumah Bung Karno di Batu Tulis, Bogor).
Tetapi lain wasiat dan amanah, lain pula kuasa rezim Soeharto, yang secara sepihak memutuskan jasad Bung Karno dimakamkan di Blitar, dengan dalih bahwa Blitar adalah kota kelahirannya. Ini benar-benar ceroboh. Bung Karno lahir di Surabaya, di daerah Paras Besar. Bukan di Blitar! Bung Karno terlahir dengan nama Koesno, dan ikut orangtuanya, Raden Soekemi Sosrodihardjo, seorang guru di sebuah sekolah di Mojokerto, yang kemudian tugasnya (memang) dipindah ke Blitar.
Sore. matahari tinggal sepenggalan, rombongan jenazah Bung Karno akhirnya sampai di tempat tujuan. Beberapa orang yang berkerumun menunggu, didorong paksa oleh barisan tentara Angkatan Darat, agar menjauh dari tempat pemakaman.
Komandan upacara, Jenderal Maraden Panggabean memulai upacara. Saya (Cak Doel Arnowo, sw), berdiri berdesak-desakan di samping Kapolri Hoegeng Iman Santosa. Kami berbicara saling berbisik, “Ujung paling belakang rombongan ini berada di mana, Pak?” Beliau menjawab singkat, di kota Wlingi. Hah? Panjang iring-iringan rombongan yang mengantar jenasah Bung Karno ini, sejak dari lapangan terbang Abdulrachman Saleh di Singosari, utara kota Malang, sampai ke Blitar, tiada putus.
Pak Hoegeng yang sederhana itu kelihatan murung, meski sigap melakukan tugasnya. Dia berbisik kepada saya: “There goes a very great man!”
Saya terharu mendengarnya. Apalagi ambulans yang mengangkut Bung Karno, terlalu amat sederhana bagi seorang besar seperti beliau. Saya lihat amat banyak manusia mengalir, seperti aliran sungai dari pecahan rombongan pengiring. Sempat saya tanyakan, mereka ada yang mengaku dari Madiun, Banyuwangi, bahkan dari Bali.
Saya berjalan ke arah berlawanan dengan tujuan ke rumah Bung Karno, tempat kakak kandung beliau, Ibu Wardojo, tinggal. Hari sudah gelap dan perut terasa lapar, karena kita tidak berhasil mendapatkan makanan atau minuman, sebab kalau pun ada warung atau penjual makanan, pasti sudah kehabisan minuman atau makanan apa pun yang bisa ditelan.
Saya ingat bahwa orang Muhammadiyah tidak memberi hidangan, minum sekalipun, kepada kaum pelayat. Bung Karno adalah orang Muhammadiyah. Kota Blitar tidak siap menampung orang sekian banyak. Setelah dilakukan pemakaman, beberapa waktu kemudian, semua makam pahlawan di Taman Pahlawan Sentul dipindah ke Mendukgerit, yang telah saya kenal sebelumnya sebagai Bendogerit.
Pemindahan ini dilaksanakan dengan alasan lokasi pemakaman sudah penuh. Tetapi pada kenyataannya, kemudian ada proyek pembangunan makam Bung Karno yang memakan area cukup lebar.
Kuburannya pun Tidak Boleh Dijenguk | Sejarah mencatat, sejak 1971 sampai 1979, makam Bung Karno tidak boleh dikunjungi umum, dan dijaga sepasukan tentara. Kalau mau mengunjungi makam, harus minta izin terlebih dahulu ke Komando Distrik Militer (KODIM). Apa urusannya KODIM dengan izin mengunjungi makam?
Saya bersama ibu saya, dan beberapa saudara, datang secara mendadak pergi ke Blitar, dengan tujuan utama ziarah ke makam Bung Karno. Tanpa ragu kita ikuti aturan, dan akhirnya sampai ke pimpinan yang paling tinggi. Saya ikut sampai di meja pemberi izin, dan sudah ditentukan oleh kita bersama, bahwa salah satu saudara saya saja yang berbicara.
Saya sendiri meragukan emosi saya, bisakah saya bertindak tenang terhadap isolasi kepada sebuah makam oleh Pemerintah atau rezim? Nah, ternyata meskipun tidak terlalu galak, mereka melayani dengan muka seperti dilipat. Mungkin dengan menunjukkan muka seperti itu, merasa bertambah gagahnya di hadapan rakyat biasa macam kami. Akhirnya semua beres, dan kami mendapat sepucuk surat. Namun apa yang terjadi?
Sesampai di makam, kami turun dari kendaraan dan saya bawa surat izin dari KODIM. Surat itu kami tunjukkan ke tentara yang jaga makam. Waktu tentara itu baca surat, saya menoleh ke belakang, terkejut saya. Selain rombongan kami sendiri, Ibu saya dan saudara-saudara, rupanya telah mengikuti kami sebanyak lebih dari tiga puluh orang, bergerombol.
Mereka, orang-orang yang tidak kami kenal sama sekali, menempel secara rapat dengan rombongan kami. Saya lupa persis bagaimana, tetapi saya ingat, kami memasuki pagar luar, dan kami bisa mendekat sampai ke dinding kaca tembus pandang, dan hanya bisa memandang makamnya dari jarak yang mungkin hanya sekitar tiga meter.
Para pengikut dadakan yang berada di belakang rombongan kami, dengan muka berseri-seri, merasa beruntung dapat ikut masuk ke dalam lingkungan pagar luar itu. Ada yang bersila, memejamkan mata dan mengatupkan kedua tangannya, posisi menyembah. Saya tidak memperhatikannya, tetapi jelas dia bukan berdoa cara Islam. Mereka khusyuk sekali, dan waktu kami kembali menuju ke kendaraan kami, beberapa di antara mereka menjabat tangan dan malah ada yang mencium tangan kami, membuat saya merasa risih.
Salah seorang dari mereka ini mengatakan, sudah dua hari bermalam di sekitar makam, di udara terbuka, menunggu sebuah kesempatan seperti yang baru saja telah terjadi tadi. Tanpa kata-kata, saya merasakan getar hati rakyat. Rakyat Marhaen, kata Bung Karno!
Mereka menganggap Bung Karno bukan sekedar Proklamator, tetapi pemimpin mereka. Bapak mereka. Apa pun yang disebarluaskan media Soeharto, dan berlawanan arti dengan kepercayaan mereka, itu semuanya dianggap persetan. Dalam hubungan Bung Karno dengan Rakyat, tidak ada unsur uang berbicara. Semua dari lubuk hati.
 

0 Komentar:

Budayakan memberi komentar setelah membaca